Archive

Archive for the ‘FILSAFAT’ Category

Selamat Jalan Franky Sahilatua …

21 April 2011 Leave a comment
Indonesia kehilangan satu lagi musisi berbakat dan humanis, Franky Hubert Sahilatua yang dikenal dengan Franky Sahilatua telah tutup usia. Si ‘Perahu Retak’ itu kini berlayar ke sisi-Nya.
Terjunnya Franky ke dunia musik adalah sebuah ketidaksengajaan. Cita-cita Franky belia kala itu ingin menjadi pelaut. Namun kedua orangtuanya, Hubert Johannes Sahilatua dan Theodora Joveva Uneputi-Sahilatua tak memberi izin.
Pria kelahiran Surabaya, 16 Agustus 1953 itu kemudian berkuliah di Akademi Akuntansi Surabaya. Tapi, musik telah memberi Franky pemasukan. Uang tersebut kemudian ia tabung sebagai modal ke Jakarta. Franky ingin masuk dunia rekaman.Franky kemudian merilis album ‘Senja Indah di Pantai’ berduet dengan sang adik Jane Sahilatua pada 1975. Bersama Jane, Franky menelurkan 15 album di bawah label Jackson Record. Sekitaran 1992-1993 lahirlah lagu-lagu kenamaan Franky yaitu ‘Perahu Retak’, ‘Orang Pinggiran’, ‘Terminal’ dan ‘Di Bawah Tiang Bendera’. Read more…
Categories: FILSAFAT, LIVE, MUSIC, PENDIDIKAN, UMUM

Catatan Akhir Tahun

31 December 2008 Leave a comment

new-year1Tahun 2008 akan meninggalkan kita. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi pada tahun ini, yang harus kita jadikan pelajaran. Mulai dari meninggalnya ‘guru bangsa’ presiden kedua Republik Indonesia di bulan Januari, kasus blue energy dan super toy.  Dari pentas Politik, situasi sudah mulai memanas dengan pendekalrasian beberapa tokoh untuk maju menjadi RI 1 di tahun 2009 nanti. Sri Sultan Hamengku Buwono X , Wiranto, Probowo dan Sutiyoso adalah segelintir nama yang telah mengajukan diri untuk menjadi presiden periode 2009-2025. Kemudian peristiwa pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Ryan dan pasangan homonya cukup membuat geger bangsa ini. Pengungkapan kasus korupsi antara jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani dalam kasus BLBI menjadi catatan sendiri dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Sampai prestasi olahraga yang diukir oleh petinju tanah air Chris John dan ganda putra kebanggaan Indonesia, Markis Kido/ Hendra Setiawan, serta undang-undang BHP pendidikan kita. 

Read more…

Categories: AGAMA, FILSAFAT, PENDIDIKAN

Sejenak… Tarik Nafas dalam-dalam

21 January 2008 1 comment

Apa yang kita lihat… apa yang kita lakoni sehari-hari… dari waktu ke waktu menjadi jalinan oase yang absurd. Kadang kita sulit membedakan, jalan yang diberi petunjuk, atau itu hanya jalan yang kita lalui dengan keberanian bahkan kepongahan ? memang tipis, batas fatamorgana kehidupan kita, terutama Indonesia…. tiap hari lakon berubah, tiap hari kita disuruh sabar, tapi carut marut ini akan menjadi bukti, bahwa kita mestinya jangan terlalu sering mengumbar mulut, berceramah membumbung ke langit… begitu idealis.

Jarang sekali kita beristirahat untuk diam, sejenak saja…. menarik nafas dalam dalam, memaknai, bahwa dari diri kitalah kita bisa memperbaiki, ambang hancurnya negri….  semoga

Categories: FILSAFAT

Anakmu Bukan Milikmu

8 January 2008 2 comments

Anakmu bukan milikmu.  Mereka adalah putra-putri sang hidup yang rindu akan diri sendiri. Dari engkau mereka lahir , tapi bukan darimu.  Mereka ada padamu, tapi bukan milikmu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu karena mereka memiliki alam pikiran mereka sendiri. Engkau bisa membangunkan rumah untuk tubuhnya, tapi bukan untuk jiwanya.  Karena jiwa-jiwa mereka adalah calon-calon penghuni rumah masa depan, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi.”  (Kahlil Gibran).

Categories: AGAMA, FILSAFAT, PENDIDIKAN

Dimensi Filsafat dalam Agama

7 January 2008 3 comments

Dimensi Filsafat dalam Agama
Oleh: Admin
Apabila dikaji hubungan antara filsafat dan agama dalam sejarah kadang-kadang dekat dan baik, dan kadang-kadang jauh dan buruk. Ada kalanya para agamawan merintis perkembangan filsafat. Ada kalanya pula orang beragama merasa terancam oleh pemikiran para filosof yang kritis dan tajam. Para filosof sendiri kadang-kadang memberi kesan sombong, sok tahu, meremehkan wahyu dan iman sederhana umat.

Kadang-kadang juga terjadi bentrokan, di mana filosof menjadi korban kepicikan dan kemunafikan orang-orang yang mengatasnamakan agama. Socrates dipaksa minum racun atas tuduhan atheisme padahal ia justru berusaha mengantar kaum muda kota Athena kepada penghayatan keagamaan yang lebih mendalam. Filsafat Ibn Rusyd dianggap menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam, ia ditangkap, diasingkan dan meninggal dalam pembuangan. Abelard (1079-1142) yang mencoba mendamaikan iman dan pengetahuan mengalami pelbagai penganiayaan. Thomas Aquinas (1225-1274), filosof dan teolog terbesar Abad Pertengahan, dituduh kafir karena memakai pendekatan Aristoteles (yang diterima para filosof Abad Pertengahan dari Ibn Sina dan Ibn Rusyd). Giordano Bruno dibakar pada tahun 1600 di tengah kota Roma. Sedangkan di zaman moderen tidak jarang seluruh pemikiran filsafat sejak dari Auflklarung dikutuk sebagai anti agama dan atheis.

Pada akhir abad ke-20, situasi mulai jauh berubah. Baik dari pihak filsafat maupun dari pihak agama. Filsafat makin menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan manusia paling dasar tentang asal-usul yang sebenarnya, tentang makna kebahagiaan, tentang jalan kebahagiaan, tentang tanggungjawab dasar manusia, tentang makna kehidupan, tentang apakah hidup ini berdasarkan sebuah harapan fundamental atau sebenarnya tanpa arti paling-paling dapat dirumuskan serta dibersihkan dari kerancuan-kerancuan, tetapi tidak dapat dijawab. Keterbukaan filsafat, termasuk banyak filosof Marxis, terhadap agama belum pernah sebesar dewasa ini.

Sebaliknya agama, meskipun dengan lambat, mulai memahami bahwa sekularisasi yang dirasakan sebagai ancaman malah membuka kesempatan juga. Kalau sekularisasi berarti bahwa apa yang duniawi dibersihkan dari segala kabut adiduniawi, jadi bahwa dunia adalah dunia dan Allah adalah Allah, dan dua-duanya tidak tercampur, maka sekularisasi itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang selalu menjadi keyakinan dasar monotheisme. Sekularisasi lantas hanya berarti bahwa agama tidak lagi dapat mengandalkan kekuasaan duniawi dalam membawa pesannya, dan hal itu justru membantu membersihkan agama dari kecurigaan bahwa agama sebenarnya hanyalah suatu legitimasi bagi sekelompok orang untuk mencari kekuasaan di dunia. Agama dibebaskan kepada hakekatnya yang rohani dan adiduniawi (agama, baru menjadi saksi kekuasaan Allah yang adiduniawi apabila dalam mengamalkan tugasnya tidak memakai sarana-sarana kekuasaan, paksaan dan tekanan duniawi.

Pertama. Salah satu masalah yang dihadapi oleh setiap agama wahyu adalah masalah interpretasi. Maksudnya, teks wahyu yang merupakan Sabda Allah selalu dan dengan sendirinya terumus dalam bahasa dari dunia. Akan tetapi segenap makna dan arti bahasa manusia tidak pernah seratus persen pasti. Itulah sebabnya kita begitu sering mengalami apa yang disebut salah paham. Hal itu juga berlaku bagi bahasa wahana wahyu. Hampir pada setiap kalimat ada kemungkinan salah tafsir. Oleh karena itu para penganut agama yang sama pun sering masih cukup berbeda dalam pahamnya tentang isi dan arti wahyu. Dengan kata lain, kita tidak pernah seratus persen merasa pasti bahwa pengertian kita tentang maksud Allah yang terungkap dalam teks wahyu memang tepat, memang itulah maksud Allah.

Oleh sebab itu, setiap agama wahyu mempunyai cara untuk menangani masalah itu. Agama Islam, misalnya, mengenai ijma’ dan qias. Nah, dalam usaha manusia seperti itu, untuk memahami wahyu Allah secara tepat, untuk mencapai kata sepakat tentang arti salah satu bagian wahyu, filsafat dapat saja membantu. Karena jelas bahwa jawaban atas pertanyaan itu harus diberikan dengan memakai nalar (pertanyaan tentang arti wahyu tidak dapat dipecahkan dengan mencari jawabannya dalam wahyu saja, karena dengan demikian pertanyaan yang sama akan muncul kembali, dan seterusnya). Karena filsafat adalah seni pemakaian nalar secara tepat dan bertanggungjawab, filsafat dapat membantu agama dalam memastikan arti wahyunya.

Kedua, secara spesifik, filsafat selalu dan sudah memberikan pelayanan itu kepada ilmu yang mencoba mensistematisasikan, membetulkan dan memastikan ajaran agama yang berdasarkan wahyu, yaitu ilmu teologi. Maka secara tradisional-dengan sangat tidak disenangi oleh para filosof-filsafat disebut ancilla theologiae (abdi teologi). Teologi dengan sendirinya memerlukan paham-paham dan metode-metode tertentu, dan paham-paham serta metode-metode itu dengan sendirinya diambil dari filsafat. Misalnya, masalah penentuan Allah dan kebebasan manusia (masalah kehendak bebas) hanya dapat dibahas dengan memakai cara berpikir filsafat. Hal yang sama juga berlaku dalam masalah “theodicea”, pertanyaan tentang bagaimana Allah yang sekaligus Mahabaik dan Mahakuasa, dapat membiarkan penderitaan dan dosa berlangsung (padahal ia tentu dapat mencegahnya). Begitu pula Christologi (teologi kristiani tentang Yesus Kristus) mempergunakan paham-paham filsafat Yunani dalam usahanya mempersatukan kepercayaan pada hakekat nahi Yesus Kristus dengan kepercayaan bahwa Allah hanyalah satu.

Ketiga, filsafat dapat membantu agama dalam menghadapi masalah-masalah baru, artinya masalah-masalah yang pada waktu wahyu diturunkan belum ada dan tidak dibicarakan secara langsung dalam wahyu. Itu terutama relevan dalam bidang moralitas. Misalnya masalah bayi tabung atau pencangkokan ginjal. Bagaimana orang mengambil sikap terhadap dua kemungkinan itu : Boleh atau tidak? Bagaimana dalam hal ini ia mendasarkan diri pada agamanya, padahal dalam Kitab Suci agamanya, dua masalah itu tak pernah dibahas? Jawabannya hanya dapat ditemukan dengan cara menerapkan prinsip-prinsip etika yang termuat dalam konteks lain dalam Kitab Suci pada masalah baru itu. Nah, dalam proses itu diperlukan pertimbangan filsafat moral.

Filsafat juga dapat membantu merumuskan pertanyaan-pertanyaan kritis yang menggugah agama, dengan mengacu pada hasil ilmu pengetahuan dan ideologi-ideologi masa kita, misalnya pada ajaran evolusi atau pada feminisme.

Pelayanan keempat yang dapat diberikan oleh filsafat kepada agama diberikan melalui fungsi kritisnya. Salah satu tugas filsafat adalah kritik ideologi. Maksudnya adalah sebagai berikut. Masyarakat terutama masyarakat pasca tradisional, berada di bawah semburan segala macam pandangan, kepercayaan, agama, aliran, ideologi, dan keyakinan. Semua pandangan itu memiliki satu kesamaan : Mereka mengatakan kepada masyarakat bagaimana ia harus hidup, bersikap dan bertindak. Fiisafat menganalisa claim-claim ideologi itu secara kritis, mempertanyakan dasarnya, memperlihatkan implikasinya, membuka kedok kepentingan yang barangkali ada di belakangnya.

Kritik ideologi itu dibutuhkan agama dalam dua arah. Pertama terhadap pandangan-pandangan saingan, terutama pandangan-pandang- an yang mau merusak sikap jujur, takwa dan bertanggungjawab. Fisafat tidak sekedar mengutuk apa yang tidak sesuai dengan pandangan kita sendiri, melainkan mempergunakan argumentasi rasional. Agama sebaiknya menghadapi ideologi-ideologi saingan tidak secara dogmatis belaka, jadi hanya karena berpendapat lain, melainkan berdasarkan argumentasi yang obyektif dan juga dapat dimengerti orang luar.

Arah kedua menyangkut agamanya sendiri. Filsafat dapat mempertanyakan, apakah sesuatu yang oleh penganut agama dikatakan sebagai termuat dalam wahyu Allah, memang termasuk wahyu itu. Jadi, filsafat dapat menjadi alat untuk membebaskan ajaran agama dari unsur-unsur ideologis yang menuntut sesuatu yang sebenarnya tidak termuat dalam wahyu, melainkan hanya berdasarkan sebuah interpretasi subyektif. Maka filsafat membantu pembaharuan agama. Berhadapan dengan tantangan-tantangan zaman, agama tidak sekedar menyesuaikan dirinya, melainkan menggali jawabannya dengan berpaling kembali kepada apa yang sebenarnya diwahyukan oleh Allah.

Penulis: Admin
Widya Inspira

Categories: FILSAFAT

TEORI EVOLUSI

7 January 2008 2 comments

TEORI EVOLUSI

Teori evolusi berawal dari sebuah pertanyaan besar yang telah menganggu pikiran manusia dari dahulu, yaitu “DARI MANA ASAL MANUSIA?”. Banyak pandangan lahir, namun Teori Evolusilah yang paling mengemparkan.
Teori Evolusi secara kasar digambarkan sebagai teori yang mengatakan bahwa manusia berasal dari binatang, jelasnya dari kera.
Pengertian
Evolusi dari segi bahasa (Bahasa Inggris: evolution), berarti perkembangan. Dalam ilmu sejarah, evolusi diartikan sebagai perkembangan social, ekonomis, politis yang berjalan sedikit demi sedikit, tanpa unsur paksaan. Dalam ilmu pengetahuan, istilah evolusi diartikan sebagai perkembangan berangsur-angsur dari benda yang sederhana menuju benda yang lebih sempurna.
Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks biologi modern, evolusi berarti perubahan frekuensi gen dalam suatu populasi. Akumulasi perubahan gen ini menyebabkan terjadinya perubahan pada makhluk hidup.
Tokoh-Tokoh Teori Evolusi Awal
J. B. de Lamarck (1774-1829)
Lamarck adalah seorang sarjana Perancis, merupakan orang pertama yang secara tegas menyatakan bahwa kehidupan berkembang dari tumbuh-tumbuhan menuju binatang, dan dari binatang menuju manusia. Namun, pandangannya pada waktu itu belum mendapat banyak perhatian.
Charles Darwin (1809-1882)
Darwin adalah ahli zoology yang berasal dari Inggris. Dalam bukunya “The Origin of Species)” (Terjadinya Jenis-Jenis), yang terbit tahun 1859, ia merumuskan pandangan bahwa: semua jenis binatang berasal dari satu sel purba. Sel-sel purba ini menurut Darwin diciptakan oleh Tuhan.
Tahun 1871, terbit buku kedua Darwin, “The Descent of Man” (Asal Usul Manusia). Dalam buku ini, ia mengatakan: binatang yang paling maju, yaitu kera, dengan proses struggle of life, sedikit demi sedikit berubah, dan dalam jenisnya yang paling sempurna, mengarah menuju wujud kemanusiaan. Binatang menjadi manusia. Pandangan ini diperkuat dengan ditemukannya tengkorak Manusia Neanderthal tahun 1856 di Lembah dekat Dusseldorf, Jerman Barat. Manusia Neanderthal menyerupai kera dan manusia.
Ernst Heirich Haeckel (1834-1919)
Haeckel adalah sarjana ilmu pengetahuan berkebangsaan Jerman. Ia menolak penciptaan sama sekali. Menurutnya, dunia ini kekal, tak ada permulaan, dan hidup tercipta dengan sendirinya secara mekanis. Demikian juga halnya dengan manusia.
Haeckel dalam bukunya “Naturliche Schopfungsgeschichte” (Sejarah Penciptaan) mengatakan, bahwa sebelum manusia Neanderthal tentu pernah hidup semacam “keramanusia” yang disebutnya “Pithecanthropus”. Namun sampai waktu fossil semacam keramanusia itu belum ditemukan.
Atas pengaruh Haeckel timbullah kebiasaan untuk menyamaratakan manusia dengan kera, melalui ungkapan “manusia berasal dari kera”. Haeckel yang sikapnya atheis membuka lebar jalan bagi penganut teori evolusi yang menentang Tuhan terutama Marxisme dan Komunisme.
Perkembangan Teori Evolusi
Biologis (Aspek Lahiriah)
Secara garis besar bukti biologis/fisically yang membuktikan teori evolusi ada 3, yaitu:Penemuan fosil-fosil dari zaman purba
Fosil adalah kerangka atau bagian kerangka baik dari hewan, tumbuh-tumbuhan, atau manusia, yang pernah hidup di zaman purbakala. Menurut fosil, manusia purba dapat di golongkan atas:
a.    Manusia pra-Neanderthal (antara 600.000-150.000 tahun yang lalu)
Dari hasil penemuan-penemuan pada zaman ini,  Klaatsch ,menyimpulkan bahwa manusia tidak berasal langsung dari kera primat (kera modern), tapi dari semacam makhluk turunan dari species kera umum, yang merupakan pendahulu baik dari kera-kera modern maupun dari manusia.
b.    Manusia Neanderthal (hidup 150.000-60.000 tahun yang lalu)
Kebudayaan Manusia Neanderthal tampak jelas yaitu dengan ditemukannya alat-alat kerja dari batu dan tulang dan juga tempat kuburan serta tempat makanan. Sehingga kemanusiaan manusia Neanderthal tidak dapat diragukan lagi. Kesadaran untuk beragama telah mulai membenih dalam dirinya.
c.    Manusia Post-Neanderthal (60.000-10.000 tahun yang lalu)
Manusia pada zaman ini dizamakan Homo sapiens. Mereka tidak hanya mengenal alat-alat kerja yang halus, lebih dari itu, mereka telah menguburkan yang mati, memiliki kemampuan untuk merenungkan hidupnya sendiri dan seluruh alam. Ia menjadi pelukis, manjadi seniman.Keajaiban Atom
Tidaklah benar benda-benda itu statis, mati. Kenyataannya adalah benda itu sanggup berubah dari intinya (atom), tidak sekedar berubah secara fisik saja. Terjadi perubahan dalam inti atom dan kefleksibelannya dalam menyatukan diri dengan atom lain. Susunan dari bagian-bagian elementer (proton, neutron, electron) sangat berbeda dengan variasi yang tak terbatas, apalagi peralihannya. Hal dapat ditafsirkan sebagai cermin dari perubahan-perubahan yan berlangsung dalam bidang yang lebih tinggi, yaitu dalam alam tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Inti pendorong evolusi adalah enersi. Para ahli tidak bisa memastikan apakah bentuk enersi itu berupa materi, karena bagian elementer atom sama sekali tidak dapat dilihat, tidak dapat dibayangkan atau digambarkan.Satu Sel Menjadi Bayi
Perkembangan yang dialami oleh anak bayi dalam kandungan wanita adalah suatu kejadian yang paling mengesankan bagi teori evolusi. Kejadian itu disebut “ontogenese”. Dengan istilah itu dimaksudkan: perkembangan yang dialami dari satu sel menuju wujud kemanusiaan. Ontogenese menunjukkan betapa hebat kekuatan alam mengembangkan sesuatu yang serba sederhana menjadi sempurna.Selain tiga bukti ini, masih ada bukti-bukti fosil-fosil binatang dan tumbuhan, perkembangan bintang-bintang yang dasyat sebagaimana dapat disaksikan oleh astronomi untuk menguatkan teori evolusi.Kesadaran (Aspek Batin)
Jika Darwin tokoh vital teori evolusi awal, di zaman modern ini, Teilhard de Chardin, sarjana paleontology dari Perancis, yang sangat popular dalam teori evolusi. Menurut Teilhard bumi mengalami 3 fase evolusi:
Fase Geosfer: fase terciptanya matahari dan planet-planet (termasuk bumi). Pada fase ini belum ada kehidupan, namun perubahan alam berjalan terus.
Fase Kehidupan (biosfer): bermula dari sel-sel, sampai pada tingkat perkembangan tertinggi. Loncatan evolusi terpenting adalah munculnya manusia.
Fase pikiran: manusia berkembang dari pola kehidupan primitif sampai pada kehidupan modern yang ditandai teknik dan industri modern.Teilhard mengatakan, setiap benda memiliki dua segi yang saling berjalin, yaitu segi luar (without): seluruh struktur benda sejauh dapat diukur, diperiksa secara fisika-kimia, dan segi dalam (within): konsentrasi psikis-inti kecendrungan dari benda.Oleh Teilhard, konsentrasi psikis itu disebut “kesadaran”. Kesadaran nampak jelas dalam diri manusia, namun ada juga dalam binatang sebagai perasaan dan insting, dan dalam tumbuh-tumbuhan sebgai hidup vegetatif. Sedangkan dalam benda mati “kesadaran” itu masih tipis.Segi luar dan segi dalam tidaklah merupakan dua bagian yang berlainan dalam suatu benda, melainkan dua sudut dari kenyataan yang sama, sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan. Jadi benda bukanlah semacam kumpulan atom-atom yang berjajaran secara mekanis saja, melainkan suatu penyatuan atom-atom dan molekul-molekul dengan daya kecendrungan tertentu. Kecendrungan itu, “kesadaran” itu, adalah kunci evolusi.Dalam benda mati, kombinasi atom dan molekul masih relatif sederhana dan sejalan dengan kesederhanaan segi luar itu, konsentrasi psikis, segi dalamnya-pun masih sederhana dan tipis. Makin kompleks, makin kaya segi lahir, yakni kombinasi molekul-molekulnya, makin padat dan kuatlah segi batinnya. Evolusi menuju struktur benda yang semakin sempurna adalah sekaligus evolusi menuju kesadaran batin yang semakin memusat. Sampai suatu saat, terjadilah loncatan maha penting dalam proses evolusi alam semesta, yaitu: meningkatnya kesadaran instinktif menjadi kesadaran reflektif, lahirnya pikiran. Terjadilah jiwa manusiawi. Manusia sadar bahwa dirinya “sadar”, dapat berkata “aku”, dapat memikirkan masa lampau dan masa depan, mengambil kesimpulan, dan merencanakan. Ia sendiri kini menjadi pendorong evolusi.Makin kompleks, makin bersatulah benda – itulah hukum evolusi–, yang disebut oleh Teilhard “loi de complexite et de conscience” (hukum eratnya hubungan antara kompleksifikasi materi dan konsentrasi batin, yaitu kesadaran). Dan bisa ditambahkan bahwa; makin bersatu, makin bebas  dari pengaruh luar, makin merdekalah ia dalam dirinya sendiri. Kebebasan mencapai puncaknya dalam diri manusia. Ia merupakan satu personality, kepribadian yang menyeluruh dalam dirinya sendiri. Ia bebas menentukan nasibnya sendiri.Penjelasan dari Teilhard merupakan pukulan yang mematikan bagi materialisme. Ia menunjukan bahwa evolusi tidak berjalan atas susunan materi belaka, tidak berkembang dari kebetulan, tetapi secara terarah, berdasarkan kesadaran batin, seakan-akan dalam benda itu tertanam suatu rencana.Persatuan mutlak antara segi lahir dan batin (tubuh dan jiwa) membawa kesimpulan-kesimpulan yang revolusioner. Pertama, manusia, seluruhnya jiwa dan badan berasal dari bapak ibu, dari leluhur. Jadi bukanlah bahwa anak bayi tubuhnya berasal dari sel telur perempuan dan sperma lelaki, sedang jiwanya pada pembuahan langsung diciptakan Tuhan. Tetapi, bapak ibu secara total, jiwa dan badan, menurunkan anak. Kedua: jika manusia meninggal, tubuh tidak akan mutlak terpisah dari jiwa, dan itu merupakan dasar dari kebangkitan.Penutup
Teori evolusi bukan lagi teori evolusi dari Darwin. Darwin sudah jauh ketinggalan. Meskipun ia tetap berjasa, namun teorinya sudah demikian mendapat koreksi, hingga teori evolusi tidak dapat disebut dan disamaratakan dengan Darwinisme.Selama ribuan tahun manusia berevolusi dalam kesadaran. Manusia telah mencapai tingkat kompleksitas yang tinggi, baik dalam pemikiran, perasaan maupun kegiatan-kegiatan hidupnya. Lebih-lebih dalam 300 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan yang luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan kemampuan-kemampuan intelektuil yang lain.Sesungguhnya titik terpenting teori evolusi bagi kehidupan manusia hari ini adalah penelaahan terhadap langkah-langkah perkembangan kebudayaan manusia. Sehingga kita akan memikirkan lagi asal usul seluruh kegiatan dan tujuan-tujuan dasar dari kegiatan tersebut. Di bidang ekonomi misalnya, dimana saat ini yang menguasai kegiatan ekonomi adalah kapitalistik dan penciptaan kebutuhan yang tidak perlu, banyak menyimpang dasarnya. Seni, terdistorsi dari pengungkapan perasaan kepada selera dangkal seperti pornografi. Sehingga, dengan pemahaman akan landasan kehidupan, manusia bisa merencanakan merintis kemajuan-kemajuan sejati di masa mendatang.Daftar Pustaka
Dahler, Franz & Julius Chandra. Edisi XI 1993. Asal dan Tujuan Manusia. Penerbit Kanisius; Yogyakarta.

Categories: FILSAFAT