Home > AGAMA, FILSAFAT, PENDIDIKAN > Catatan Akhir Tahun

Catatan Akhir Tahun

new-year1Tahun 2008 akan meninggalkan kita. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi pada tahun ini, yang harus kita jadikan pelajaran. Mulai dari meninggalnya ‘guru bangsa’ presiden kedua Republik Indonesia di bulan Januari, kasus blue energy dan super toy.  Dari pentas Politik, situasi sudah mulai memanas dengan pendekalrasian beberapa tokoh untuk maju menjadi RI 1 di tahun 2009 nanti. Sri Sultan Hamengku Buwono X , Wiranto, Probowo dan Sutiyoso adalah segelintir nama yang telah mengajukan diri untuk menjadi presiden periode 2009-2025. Kemudian peristiwa pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Ryan dan pasangan homonya cukup membuat geger bangsa ini. Pengungkapan kasus korupsi antara jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani dalam kasus BLBI menjadi catatan sendiri dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Sampai prestasi olahraga yang diukir oleh petinju tanah air Chris John dan ganda putra kebanggaan Indonesia, Markis Kido/ Hendra Setiawan, serta undang-undang BHP pendidikan kita. 

new-year2Dari kancah Internasional, tahun 2008 diwarnai dengan munculnya kekuatan politik baru di Amerika Serikat dengan munculnya seorang Afro-Amerika sebagai Presiden Amerika untuk pertama kalinya. Disamping itu, tahun 2008, juga diwarnai dengan krisis ekonomi yang mengguncang seluruh dunia. Lagi-lagi Amerika memegang peranan penting sebagai penyebab utama terjadinya krisis global ini. Kredir perumahan yang dikucurkan oleh bank do negeri paman sam macet yang menyebabkan ekonomi dunia terguncang. Disamping itu teror kembali mengguncang dunia.Mumbai tercatat menjadi saksi bisu peristiwa terorisme terburuk sejak peristiwa nine eleven. Dunia pun bergerak semakin renta.

Lalu apa yang bisa kita ambil semua peristiwa-peristiwa itu? Atau pertanyaan yang lebih mendasar, apakah kita perlu dan harus memaknai peristiwa-perisitwa tersebut?  Seorang besar pernah berkata “jasmerah” jangan sekali-kali melupakan sejarah, yang lain berkata it’s not the events of our lives that shape us, but our belief as to what those even mean. Ya, tidak penting apa yang terjadi pada kehidupan kita ini, apakah itu senang, sedih, susah, ataupun mudah, yang terpenting adalah apakah kita mampu memetik hikmah yang tersembunyi dan tampak dari sebuah peristiwa.

Peristiwa meninggalnya Pak Harto mungkin mengajarkan kepada kita tentang makna kata maaf. Bangsa ini sedang belajar menjadi bangsa yang pemaaf. Walau bagaimanapun Pak Harto pernah sangat berjasa bagi bangsa ini. Mungkin kalimat ini bisa didebatkan, ya tapi esensi yang paling mungkin bisa diambil adalah bangsa ini sedang belajar untuk menjadi pemaaf. Dan memaafkan bukan bearti melupakan. Memaafkan adalah sesuatu yang mulia, tetapi melupakan adalah kekonyolan tersendiri. Jangan sampai bangsa ini melupakan hingga mengulangi lagi kesalahan yang sama.

Situasi politik yang memanas mungkin mengajarkan kepada kita bahwa kedewasaan dalam berpolitik adalah sesuatu yang niscaya. Jangan sampai situasi politik tidak terkendali sehingga membuat keadaan semakin buruk. Sungguh ironi melihat para pemimpin yang ingin memperbaiki negeri ini justru saling membuat situasi politik yang tidak kondisif yang pada akhirnya akan menghambat perekonomian. Ya, bangsa ini masih harus belajar etika berpolitik yang santun.

Kasus Ryan, membuka luka tersendiri bagi bangsa ini. Kasus ini bagaikan menampar kita sebagai bangsa. Fenomena sosial apa ini? Bayangkan, seorang homo seksual, membunuh orang dengan cara yang paling kejam, mutilasi. Ada apa dengan masyarakat ini. Kasus Ryan mungkin hanyalah puncak gunung es atas penyimpangan sosial yang terjadi di negeri ini. Kasus kriminalitas yang meningkat, modus kejahatan yang semakin bertambah, membuktikan bahwa bangsa ini tengah sakit secara sosial. Bangsa ini sungguh harus terus berbenah. Kasus ryan mengajarkan kepada bangsa ini bahwa secara sosial bangsa ini masih rapuh.

Dan yang paling menyedihkan tentu saja, masih maraknya kasuskorupsi di negeri ini. Bahkan para jaksa, yang sejatinya adalah penegak hukum justru membuat hukum seperti barang mainan yang tidak berharga. Dengan murahnya integritas dijual hanya demi kefanaan. Dari kasus Urip-Artalyta bangsa ini belajar bahwa korupsi memang musuh besar kita bersama. Korupsi adalah masalah mental yang harus kita perangi bersama. Mental cara instan. Mental ingin mendapatkan sesuatu tanpa pernah bekerja keras terlebih dahulu. Dari korupsi bangsa ini belajar, bahwa budaya instan adalah penyakit jiwa. Ia membuat bangsa ini menjadi tidak inovatif, tidak kreatif dan pada khirnya tidak produktif. Korupsi adalah musuh mental bangsa ini yang ingin bangkit.

Di tengah situasi bangsa yang tampaknya semakin runyam ini, ada sebagian kecil anak bangsa yang terus mengharumkan nama ibu pertiwi di puncak-puncak dunia. Chirs John, petinju kebanggan tanah iar, berhasil mempertahankan gelarnya sekali lagi. Tim olimpiade kita, tetap konsisten mempersembahkan tradisi emas. Tentu saja dari cabang bulutangkis, melalui ganda Markis Kido-Hendra Setiawan. Ibu pertiwi pun tersenyum menyaksikan putra-putri terbaiknya mengharumkan namanya. Dengan prestasi tersebut, bangsa ini belajar untuk menghargai para pahlawannya, menghargai prestasi yang telah ditorehkan oleh putra-putrinya. Bahwa ukuran manfaat seseorang adalah dari tindakan nyata yang telah dibumikannya bukan dari janji-janji palsu yang hanya mengawang di atas atsmosphere kehampaan.

new-year3Dibidang pendidikan muncul kontroversi BHP yang sebagian orang mengatakan bahwa Undang-undang itu akan menyeret sistem pendidikan kita pada praktik komersialisasi dan kapitalisasi. Dengan BHP, akan terjadi mirkantilisme pengetahuan. Ilmu pengetahuan akan menjadi objek komersialisasi yang diperjualbelikan. Disisi lain, banyak juga pendapat yang menyatakan bahwa Undang-Undang BHP akan semakin menjamin kemudahan semua warga negara Indonesia dalam mendapatkan haknya di bidang pendidikan secara adil dan merata, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi. Pendidikan yang berkualitas dan bermutu akan bisa dinikmati segenap anak bangsa dari berbagai lapisan apa pun, tanpa ada diskriminasi dan stratifikasi ekonomi. Selagi mereka berprestasi dan memiliki bakat unggul, maka ia berhak mendapatkan pelayanan pendidikan. Pada prinsipnya bahwa dinamika pendidikan Indonesia selama 2008 dalam melaksanakan praktik penyelenggaraan pendidikan, tentunya tetap harus berpedoman pada prinsip-prinsip: otonomi, akuntabilitas, transparansi, penjaminan mutu, layanan prima, akses yang berkeadilan, keberagaman, keberlanjutan, serta partisipasi  atas tanggung jawab negara. Dengan prinsip-prinsip ini, pengelolaan sistem pendidikan formal di Indonesia ke depan diharapkan makin tertata dengan baik, makin profesional, dan mampu membuat satu sistem pengelolaan pendidikan yang efektif dan efisien untuk meningkatkan mutu, kualitas, dan daya saing.

Dari dunia internasional, tahun 2008 merupakan tahun pembuktian sistem kapitalis. Krisis keuangan yang menghantam dunia seakan menunjukkan betapa buruknya sistem kapitalis. Karena kecerobohan bank-bannk di AS dalam pemberian kredit perumahan pada warganya, dunia mengalami guncangan krisis ekonomi. Akhirnya pemerintahan AS pun melanggar prinsipnya sendiri dengan memberi bantuan dana talangan sebesar 700 milyar US Dollar. Dan Indonesia pun terkena dampaknya. Pabrik plup di Riau tiba-tiba merumahkan 1000 orang karyawannya. Pertumbuhan ekonomi yang tadinya ditargetkan 6 %, direvisi menjadi 4,5 %. Dari krisis dunia ini bangsa ini belajar untuk tidak terpersok kedua kalinya. Belajar untuk tidak bersikap konyol seperti pada tahun 1998. Lihatlah pemerintah yang kemudian sigap menanggapi krisis sehingga dampaknya bisa diminimalisir.

Itulah rekam jejak Indonesia dan Dunia di tahun 2008. Mengajak bangsa ini untuk kembali merenung. Sudah sejauh mana usaha kita sebagai bangsa, memakmurkan negeri yang sama-sama kita cintai ini. Negeri yang telah di berikan anugrah oleh Tuhan dengan segala kekayaan alam yang berlimpah. Negeri dengan SDA dan SDM terbesar di dunia. Sudah sampai sejauh mana bangsa ini berhasil memanfaatkan karunia itu untuk menjadi pemakmur bumi ini. Ataukah justru bangsa ini hanya menjadi beban bagi bangsa lainnya?  Menjadi bagian dari masalah atau solusi bagi permasalahan bangsa di dunia ini. Hanya kitalah, ya hanya kita, sebagai anak bangsa yang mampu menjawabnya. Mari kita masuki 2009 dengan harapan, karena harapan itu masih ada…. Selamat Tahun Baru 2009

Advertisements
Categories: AGAMA, FILSAFAT, PENDIDIKAN
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: