Home > AGAMA > Makna Idul Kurban bagi Transformasi Sosial

Makna Idul Kurban bagi Transformasi Sosial

images1Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban menyimpan banyak harapan untuk self cleaning, menjanjikan peleburan jiwa ke dalam proses penemuan jati diri dan harga diri. Kalimat takbir, tahmid, dan tahlil yang dikumandangkan pada prinsipnya bukanlah apa-apa, melainkan ia hanya sebuah ekspresi ketakjuban, refleksi kekaguman spontanitas, totalitas kepasrahan atau peleburan diri ke alam yang kasat mata namun nyata.

Kalau boleh diandaikan bahwa semangat Idul Kurban itu dinamis, sejatinya ia tidak hanya berhenti untuk memperkaya horison pengalaman beragama secara individual, tapi juga berlanjut implementasinya pada dataran empiris-sosial. Dengan kata lain, ia berimplikasi meningkatkan kualitas penghayatan individu terhadap universalitas nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, kedudukan agama bukan semata-mata cultus privatus, tapi juga cultus publicus.
Sementara itu, masyarakat kini tengah mengalami apa yang disebut transformasi sosial sebagai dampak dari arus modernisasi. Transformasi ini mendesak setiap anggota masyarakat untuk menguji kembali validitas beragam konvensi yang dilahirkan oleh lembaga-lembaga sosial dan kebudayaan dalam rangka survive dan revive.
Transformasi ini juga memaksa setiap pemeluk agama untuk melakukan reorientasi terhadap pola penghayatan keagamaannya, dengan menafsirkan dan mamaknai ulang format pemahamannya terhadap validitas tekstual kitab suci.
Sikap inilah yang disebut reinterpretasi yang oleh Roland Barthes disebut pula sebagai deformasi. Tiap kali membicarakan apa saja, termasuk agama, kita menghadapinya bukan sebagai organisme yang punya riwayat. Kita acap kali menundukkannya di bawah kriteria kita, hukum kita, dan konsensus di antara kita. Dengan demikian, kita merasa cukup otoritatif mengklaim mana yang “benar dan salah” menurut persepsi kita, sesuai dengan kepentingan kita.

 

Urgensi Makna Kurban
Memang, begitulah agama. Ia datang bukan untuk disapa. Ia datang dengan misi dialog, semangat dialektis, dan cita-cita profetis. Ia berhadapan dengan kecerdasan manusia, perubahan ruang, dan pergeseran waktu.
Ia menyatu dengan proses transformasi masyarakat pemeluknya, yang ternyata tidak homogen secara geografis maupun etnis. Dengan begitu, agama menuntut untuk dipahami dan ditangkap pesannya dengan pendekatan transformatif. Reinterpretasi memang berarti deformasi. Tapi, bukankah dengan reinterpretasi pula manusia dan agama masing-masing melakukan adaptasi ?
Agama jelas merupakan lembaga yang menjadi referensi pemeluknya dalam rangka mencari sumber-sumber legitimasi. Salah satu bentuknya berupa identitas formal, yang seringkali ekspresinya bisa dilihat dalam bentuk sistem upacara dan penyembahan.
Ekspresi ini mendapat perhatian yang lebih istimewa, karena para pemeluknya punya keinginan yang menggebu-gebu untuk menampilkannya lebih ke permukaan. Sebabnya satu, ia bukan hanya identitas. Tapi secara umum—untuk membedakannya dengan humanisme yang kering dari unsur-unsur transendental dan eskatologis—ia adalah agama itu sendiri.
Dari paparan di atas, sebenarnya Idul Kurban punya urgensi makna yang bisa dijadikan legitimasi bagi terwujudnya obsesi-obsesi sosial. Kesetiakawanan, solidaritas, menurunnya kesenjangan antarberbagai kelompok masyarakat, tegaknya semangat otonomi, dan pembebasan dalam diri manusia, adalah hal-hal yang sangat mungkin dicarikan justifikasinya pada semangat Idul Kurban.
Salah satu atau bahkan satu-satunya kekuatan Idul Kurban terletak pada fungsi legitimasi simbolisnya. Maka ketika pengorbanan itu diwujudkan dalam bentuk selain menyembelih hewan, yang terjadi adalah discontinuity. Artinya, orang Islam jadi kehilangan simbol-simbol yang melegitimasi kerja-kerja pengorbanan mereka, peneladanan sikap-sikap yang dicontohkan oleh nabi-nabi mereka yang hanif.
Penyembelihan hewan merupakan upaya mencari jejak historis dan tradisi. Ia merupakan eternalisasi kontinuitas hari ini dan kemarin. Dalam merayakan Idul Kurban, ternyata kita tidak cukup hanya dengan mempertahankan “semangat berkorban”, sebagaimana dicontohkan Ibrahim dan Ismail, tapi juga harus tetap mempertahankan “kerja-kerja” pengorbanan sebagaimana dilakukan Ibrahim dan Ismail itu.

Tiga “Mainstream”
Tampaknya, Idul Kurban menyimpan tiga hal yang menjadi bagian dari mainstream evolusi kebudayaan, yakni agama, budaya, dan keberlangsungan. Agama mengakomodasi kelahiran dan pelembagaan spiritualitas dan nilai-nilai kebersamaan, pengorbanan, pembebasan, dan solidaritas yang konvergen.
Budaya menunjuk pada pelembagaan penyembelihan menjadi semacam tradisi, yang selain kental dengan nuansa lokal, juga cenderung konsentris. Sementara itu, keberlangsungan menunjuk pada kontinuitas dan mengalirnya waktu dalam rentang linear ke depan.
Dari ketiga mainstream tersebut, yang paling penting adalah, bukan konvergensi nilai, tapi konsentrisitas simbol. Artinya, bahwa Idul Kurban–seperti yang berkembang di masyarakat–lebih identik dengan peristiwa budaya daripada peristiwa ritual keagamaan. Dengan kata lain, ia lebih menyerupai momentum sebuah pesta, daripada momentum keinsafan dan keharuan.
Dengan demikian, ada satu kepastian di luar semua itu, yakni bahwa simbol-simbol budaya yang lahir dari basis agama relatif lebih eternal dan mendapatkan apresiasi, dari pada yang lahir melalui mobilisasi kreativitas dan daya cipta manusia semata.
Agama ternyata memuat unsur-unsur sakral. Sementara sakralitas, menurut Emile Durkheim, mampu membangkitkan perasaan kagum, dan karena itu, ia memiliki kekuatan memaksa dalam mengatur tingkah laku manusia serta kekuatan untuk mengukuhkan nilai-nilai moral kelompok pemeluk.
Sakralitas pula yang merangsang atribut-atribut agama untuk tetap survive di tengah arus globalisasi dan arus informasi simbol-simbol budaya. Sungguh pun pada dasarnya bukan benda-benda tersebut yang merupakan tanda dari yang sakral, tapi justru berbagai sikap dan perasaanlah yang memperkuat sakralitas tersebut. Sakralitas ini terwujud karena sikap mental yang didukung oleh perasaan.
Oleh karena itu, biarlah sampai kapan pun Idul Kurban dirayakan dan disemarakkan dengan hiruk-pikuk penyembelihan hewan. Ia bukan saja sekadar ornamen dan dekorasi yang melegitimasi keterkaitan organik umat Islam dengan masa lalunya, melainkan juga sejenis segmen yang berputar dalam mainstream evolusi kebudayaan umat manusia, yakni konvergensi, konsentrisitas, dan kontinuitas.

Sinar Harapan

Advertisements
Categories: AGAMA
  1. daru ledug
    11 December 2008 at 11:38 am

    good pak…
    kata orang londo.. the more you give, the more you recieve

  2. 1 November 2010 at 9:52 pm

    Terima kasih Pak atas pencerahannya.

  3. 2 January 2015 at 3:01 pm

    You post interesting articles here. Your page deserves
    much bigger audience. It can go viral if you give it initial boost, i know very useful service that can help you,
    just search in google: svetsern traffic tips

  4. 8 September 2016 at 9:14 am

    If you are interested in topic: make money donating sperm uk – you should read about
    Bucksflooder first

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: